Isu Terkini Kesehatan


OBAT SERIBU
May 26, 2008, 12:59 am
Filed under: Uncategorized

Disusun oleh :

Amalina Syaharani (0606099284)

Erma Yusniarti (0606099851)

Niken Dwi Indah (0606100411)

Nurul Aeni (0606100481)

Nurul Dwi Astuti (0606100494)

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Depok 2008

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kesehatan adalah salah satu modal dalam pembangunan suatu bangsa. Dengan derajat kesehatan masyarakat yang baik, maka akan memudahkan proses suatu pembangunan yang membutuhkan pemberdayaan sumber daya manusia. Mengingat pentingnya kesehatan masyarakat dalam suatu bangsa, bangsa Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Program Obat Seribu merupakan salah satu misi pemerintah dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut.

Dalam perjalanan Program Obat Seribu di Indonesia, tidak seluruhnya berjalan dengan mulus. Masih banyak kendala dan masalah yang harus diatasi oleh Pemerintah Indonesia. Salah satunya adalah terkait masalah distribusi, karena ternyata masih banyak wilayah di Indonesia yang belum memasarkan Obat 1000 atau dengan kata lain, Obat 1000 masih belum ada di wilayah tersebut. Masih berhubungan dengan masalah distribusi, pada kenyataannya masih ada beberapa produsen yang tidak mau memasarkan produk Obat 1000 karena harganya yang terlalu murah sehingga tidak mendatangkan keuntungan apapun bagi mereka.

Selain masalah teknis dari pihak produsen dan distributor, ternyata terdapat juga masalah dari pihak konsumen, yaitu dari pihak masyarakat. Pada faktanya, banyak masyarakat yang belum yakin dengan khasiat Obat 1000. Mereka mengira Obat 1000 tidak berkhasiat menyembuhkan karena harganya yang sangat murah, padahal komposisi Obat 1000 sama seperti obat generik lainnya yang lebih mahal dan sudah dipercaya dapat menyembuhkan. Peran serta masyarakat ini juga turut berpengaruh terhadap kesuksesan Program Obat Seribu ini.

Dari hal-hal tersebut, dapat kita lihat bahwa isu tentang Program Obat Seribu ini sangat menarik untuk dikaji dan dibahas lebih lanjut dalam bentuk makalah mata perkuliahan Isu-Isu Terkini AKK.

1.2 MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka masalah Program Obat 1000 ini difokuskan pada :

1. Bagaimana implementasi pemerataan distribusi Obat Seribu di wilayah Indonesia.

2. Mengapa masih banyak kalangan yang tidak setuju dengan Program Obat Seribu.

3. Bagaimana pandangan masyarakat tentang Program Obat Seribu.

1.3 TUJUAN

Penulis menyusun makalah ini bertujuan agar pembaca dapat mengetahui lebih jelas tentang Program Obat Seribu yang baru saja dicanangkan oleh Pemerintah dan apa saja kendala yang muncul selama pelaksanaan program tersebut. Setidaknya kami berharap makalah ini dapat memberi pemikiran lebih lanjut mengenai hal tersebut. Makalah ini kami susun juga, sebagai tugas mata kuliah Isu-Isu Terkini AKK, yang nantinya akan dinilai oleh dosen mata kuliah Isu-Isu Terkini AKK yaitu Bapak Sandy Iljanto.

1.4 METODOLOGI PENELITIAN

Kami mendapatkan data dan informasi dengan metode kepustakaan/literatur. Data serta informasi yang didapat bersumber dari situs-situs internet yang mengulas tentang Program Obat Seribu.

1.5 RUANG LINGKUP

Berhubung terbatasnya waktu & tenaga dalam penulisan makalah ini, maka isi dibatasi pada masalah yang terkait dengan pandangan masyarakat tentang Program Obat Seribu dan pengaruh masalah-masalah teknis pada pelaksanaan Program Obat Seribu.

BAB 2

OBAT SERIBU

Kesehatan dewasa ini merupakan modal utama untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, di Indonesia sendiri angka kesakitan (morbidutas) terbilang masih tinggi. Mungkin penyebab utamanya adalah faktor ekonomi. Masyarakat lebih peduli dengan bagaimana cara mereka mendapatkan uang daripada kesehaatnnya sendiri. Banyak masyarkat yang masih menerapkan health seeking behavior, yaitu baru mencari pelayanan kesehatan setelah jatuh sakit. Jadi paradigma sehat tidak tertanam di pikiran masyarakat.

Ditengah kerisauan masyarakat akan kenaikan harga bahan pangan yang terus melonjak, pemerintah membuat program di bidang kesehatan yang bernama Obat Serbu (Obat serba seribu). Obat seribu merupakan obat generik tak berlogo dengan harga eceran tertinggi yaitu Rp.1000,00 per strip. Obat ini baru saja diluncurkan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang bekerjasama dengan PT. Indofarma sebagai produsennya.

Tujuan dibuatnya obat seribu ini menurut Menteri Kesehatan adalah untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat murah yang berkualitas bagi masyarakat. Ketersediaan dan pemerataan obat berarti tersedianya obat (drug availabulity) di seluruh Indonesia baik dari segi jenis maupun jumlah obat, sesuai dengan kebutuhan nyata dan pola penyakit. Sedangkan keterjangkauana obat berarti adanya jaminan akses obat dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat terutama masyarakat yang tidak mampu membeli pelayanan kesehatan baik sektor publik maupun swasta.

2.1 JENIS OBAT SERIBU

Direktur Utama PT Indofarma, Syamsul Arifin menjelaskan, Ada sepuluh obat yang diluncurkan, dan segera me­nyu­sul dua lagi yang sudah terdaftar di BPOM. Nantinya, total akan ada 20 jenis obat dengan membawa nama Indo di depannya yai­tu Indo Obat Batuk dan Flu, Obat Flu, Ba­tuk Berdahak, Asma, Pe­nurun Panas Anak, Penurun Pa­nas, Tambah Darah, Maag, Sakit Kepala, dan Indo Obat Batuk Cair. “Obat itu dijual bebas, tanpa resep dokter. Harganya diseragamkan Rp 1000,00 per paket. Harga tersebut sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan merupakan harga eceran tertinggi di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.

2.2 DISTRIBUSI OBAT SERIBU

Distribusi dan pemasaran yang dilaksanakan saat ini baru diprioritaskan untuk beberapa titik pemasaran di wilayah Jabodetabek, Jawa dan Bali. Diharapkan akhir triwulan III sudah memenuhi kebutuhan nasional. Direktur Utama PT Indofarma, Syamsul Arifin, mengatakan obat-obatan itu, katanya, tidak hanya akan dijual di apotek yang berada di rumah sakit dan apotek umum saja namun juga akan dijual di pasar-pasar non panel seperti warung obat, toko obat, atau melalui dokter yang melakukan praktik dispensing (pemberian obat langsung kepada pasien saat berkonsultasi. Obat-obat ini disediakan juga diposkestren, desa-desa siaga dan apotik rakyat diseluruh Indonesia.

Untuk menambah jalur distribusi dilakukan direct selling, yaitu memperpendek jalur distribusi untuk memasarkan langsung obat tersebut ke warung-warung. Bahkan dalam waktu dekat ini mitra binaan Indofarma akan mensosialisasikan program Warung Obat Rakyat Murah untuk perluasan distribusi obat seribu. Urutan jalur distribusi obat adalah dari perodusen ke distributor lalu ke apotek dan toko obat, kemudian ke warung atau kelontong, sampai ke rombong-rombong,

Sejak diluncurkan pertengahan Mei lalu hingga saat ini, penjualan produk murah Obat Indo Serba Seribu (Indo Serbu) dari PT Indofarma Tbk di wilayah Jawa Tengah, telah mencapai angka 670 ribu strip atau senilai Rp 670 juta. Pendistribusian ini baru mencapai 80% dari sekitar 900-an apotik di Jateng. Sementara untuk toko obat dan warung rombong, baru sekitar 40% saja.


BAB 3

ISU-ISU MENGENAI OBAT SERIBU

3.1 BEBERAPA OPINI MENGENAI OBAT SERIBU

Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadillah Supari, SpJP(K) telah meluncurkan program obat murah serba seribu rupiah di Departemen Kesehatan pada tanggal 8 Mei 2007. Hal ini tentunya telah memicu reaksi dari berbagai kalangan. Berikut ini adalah beberapa opini serta pernyataan yang berasal dari publik dan beberapa tokoh terkait dengan peluncuran obat seribu tersebut :

1. Menkes Siti Fadiah Supari

“Walaupun murah tetapi pemerintah mengontrol aspek khasiat, keamanan dan kualitas obat. Depkes dan BPOM akan mengawasi industri farmasi yang memproduksi obat serba seribu rupiah ini. Dengan sediaan obat yang murah seperti ini, produsen obat palsu pun tidak akan untung dan akan segera gulung tikar,”

2. Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatanm Departemen Kesehatan,Dra.Meinarwati, Apt Mkes

Obat murah serba seribu rupiah ini merupakan obat murah yang berkualitas. obat seribu rupiah ini bukan obat generik biasa, namun obat generik bermerek yang diperuntukkan untuk seluruh lapisan masyarakat.

3. Branch Manager PT Indofarma Global Medika (IGM) Semarang, Budi Santoso
Sebagian besar masyarakat sudah sadar bahwa obat berkhasiat tak harus mahal,” “Tidak ada tawar menawar untuk kualitas obat, khasiat tidak harus ditentukan dengan harga mahal.”

4. Ny Atun (45), pemilik warung makan di daerah Tegalsari, Semarang.
”O ada ya obat seribu? Saya malah nggak tahu.”

5. Ny Seha Ani (62), pensiunan Dinkes

”Saya lebih percaya dengan merek yang sudah populer.’‘

6. Mahasiswa Undip, Septi (22)

”Teman kos sembuh setelah minum obat sakit kepala seribu rupiah ini, jadi saya ingin mencobanya.”

7. Ketua LP2K Semarang Ngargono

”Konsep obat murah ini cukup bagus, namun jangan sampai mengorbankan kualitas produk itu sendiri,”

3.2 PERMASALAHAN DALAM MENSUKSESKAN OBAT SERIBU

Permasalahan yang dihadapi dalam program obat murah berkualitas ini sangat banyak. Masalah ini muncul mulai dari awal peluncuran sampai dengan pendistribusiannya. Seperti yang kita tahu, obat murah berkualitas ini bisa kita dapatkan dengan harga eceran tertinggi seribu rupiah saja, tetapi pada kenyataannya tidak semua masyarakat tahu mengenai keberadaan obat ini. Sekalipun mereka mengetahiunya, meraka tidak begitu saja percaya dengan kualitas obat ini karena ini menyangkut kesehatan sehingga sampai detik ini pun masih banyak masyarakat yang tidak peduli dengan program obat seribu ini. Padahal program obat murah ini merupakan suatu angin segar bagi masyarakat kelas menengah yang kesehatannya buruk dan tidak mendapatkan Askeskin

Di daerah, obat murah ini masih sangat sulit untuk ditemui. Ditengarai masalah ini diakibatkan juga oleh resistensi dari obat sejenis yang merasa tersaingi. Mereka yang sudah eksis bisa saja memboikot atau melakukan trik-trik lain yang dapat menghambat mekanisme pendistribusian obat seribu ini ke pasar. Untuk daerah Jakarta sendiri, sebenarnya obat ini sudah banyak beredar di supermarket-supermarket, pasar-pasar atau warung-warung walupun pendistribusiannya belum seluruhnya merata. Kenyataan yang lebih menyedihkan adalah adanya spekulan yang membeli obat ini untuk kemudian dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Ini merupakan bukti bahwa ada produsen obat yang tidak suka dengan kehadiran obat murah dari pemerintah.

Kesulitan masyarakat dalam mengakses obat ini bias disebabkan oleh banyak pihak. Adanya hubungan saling menguntungkan antara dokter dengan farmasi juga merupakan salah satu penyebabnya. Untuk mengejar pendapatan, dokter menjadi pelit akan informasi obat generik dan obat murah ini, bahkan mereka menjadi seperti sales pabrik farmasi yang cenderung memberi obat yang berlebihan kepada pasiennya. Penyebab lainnya adalah adanya distributor, apotek dan toko obat yang tidak mau menerima obat seribu ini karena nominal profitnya lebih kecil jika dibandingkan dengan produk kompetitor, padahal jika ia membeli dalam jumlah banyak, nominal profitnya juga akan lebih besar.

Dari semua permasalahan ini, harus ada solusi untuk sesegera mungkin menyelesaikannya. Agar pada akhirnya semua kalangan, baik masyarakat maupun produsen farmasi lainnya turut mendukung program pemerintah ini yang sangat pro-rakyat terutama bagi mereka kaum SADIKIN (SAkit seDIkit misKIN). Sebuah program pemerintah tidak akan berjalan dengan lancer jika tidak didukung oleh semua pihak (lintas sektoral). Oleh karena itu, diharapkan pemerintah segera menindaklanjuti permasalahan ini agar program yang sangat baik ini tidak berhenti sampai sini saja.


BAB 4

REKOMENDASI KELOMPOK

Seperti yang kita tahu, walaupun obat murah seribu rupiah ini merupakan program pemerintah tetapi dalam prosesnya masih saja menemui hambatan. Permasalahan-permasalahan yang timbul dapat mengakibatkan program ini tidak berjalan lancar. Padahal program ini sangat membantu rakyat yang tidak dapat menjangkau harga obat di pasaran. Oleh karena itu kami ingin memberikan rekomendasi yang mungkin saja jika dilakukan dapat membantu kelancaran program ini, lebih luasnya semoga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Jeni-jenis obat seribu yang diluncurkan beberapa waktu lalu yaitu Indo Obat Batuk dan Flu, Obat Flu, Ba­tuk Berdahak, Asma, Pe­nurun Panas Anak, Penurun Pa­nas, Tambah Darah, Maag, Sakit Kepala, dan Indo Obat Batuk Cair. Jika kita lihat dari jenisnya, semuanya berfungsi untuk menyembuhkan orang yang telah sakit. Sebaiknya yang ditanamkan adalah paradigma hidup sehat sehingga masyarakat lebih memilih menjaga kesehatan daripada menunggu sakit karena sudah ada obat seribu ini. Salah satu caranya yaitu dengan meluncurkan vitamin-vitamin, obat penambah darah, dll sehingga masyarakat terbiasa hidup sehat.

Masalah yang paling sering muncul dalam program ini adalah masalah pendistribusian. Di daerah-daerah tepencil masih banyak masyarakat yang tahu mengenai obat seribu, tetapi tidak menemukannya di warung-warung maupun di toko obat. Bisa jadi ini karena ada perusahaan farmasi lain yang tidak bergembira karena merasa tersaingi atas kehadiran obat seribu ini, lalu memboikot obat seribu agar tidak sampai di pasaran. Sebaiknya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengatur tata cara pendistribusian obat seribu agar tidak ada pihak yang sewenang-wenang menyalahgunakan program ini. Birokrasi pendistribusian obat seribu juga harus diperhatikan dengan sangat agar tidak terjadi keterlambatan pengiriman karena birokrasinya terlalu lama. Pada kenyataannya pemerintah tidak mengelurkan Keputusan Menteri Kesehatan atau kebijakan lainnya yang dapat mengatur tata cara produksi, pendistribusian, dll demi tercapainya tujuan dari diluncurkannya obat seribu. Mungkin kebijakan obat seribu di atur oleh Kebijakan obat nasional (KONAS) yang sesuai dengan keputusan menteri kesehatan RI NO. 47/Menkes/SK/II/1983 merupakan penjabaran sistem kesehatan nasional (SKN) yang dikhususkan untuk pembangunan di bidang obat sebagai bagian pembangunan dalam bidang kesehatan dan menjadi pedoman dan petunjuk pelaksanaan bagi penyelenggara semua upaya di bidang obat, tetapi tidak ada kebijakan strategis yang dikhususkan untuk mengatur obat seribu dari mulai produksi, distribusi sampai konsumsi.

Banyak masyarakat yang belum percaya dengan kemanjuran obat seribu ini. Mereka berpikir bahwa obat yang murah pasti berkualitas buruk. Padahal Menkes sendiri telah menjelaskan bahwa obat ini akan tetap dijaga kualitasnya. Oleh karena itu sebaiknya DepKes dan BPOM tetap mengawasi dan melakukan penjagaan yang ketat dari mulai di produksinya obat ini sampai ke tangan konsumen agar program ini tidak sia-sia dan tidak kehilangan kepercayaan masyarakat.


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

¨ Obat seribu rupiah ini merupakan langkah awal pemerintah untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat Indonesia

¨ Dalam pendistribusian obat seribu, masih di temukan kendala-kendala yang jika tidak segera di selesaikan maka akan menghambat sampainya obat seribu ini ke tangan masyarakat.

¨ Masyarakat masih kurang percaya akan kualitas obat seribu karena harganya yang murah.

¨ Pemerintah masih kurang melakukan pengawasan di lapangan mengenai peredaran obat seribu, karena banyak pihak yang tidak senang akan hadirnya obat seribu yang mengganggu kelancaran peredaran obat seribu.

¨ Pemerintah belum membuat kebijakan-kebijakan strategis yang mengatur obat seribu.

5.2 SARAN

¨ Sebaiknya pemerintah membuat kebijakan yang mengharuskan apotik-apotik, warung, toko obat mau menjual obat seribu dan tidak perlu takut jika keuntungannya kecil.

¨ Sebaiknya ada penjagaan yang ketat dari pemerintah mengenai kualitas obat seribu agar masyarakat percaya dan mau membeli obat seribu.

¨ Sebaiknya sosialisasi obat seribu ini juga menggunakan sistem dari mulut ke mulut karena cara itu lebih efektif apalagi di daerah terpencil yang jarang sekali di temui media elektronik.

¨ Sebaiknya pemerintah memberikan sanksi kepada pihak yang melalakukan aksi borong obat murah dan menjualnya kembali dengan harga tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

Andra. “Sehatkan Masyarakat dengan Obat Murah”. 27. Februari 2008. http://www.majalah-farmacia.com

Syahrituah SIregar. “Obat Seribu Perak Jangan Jadi Paradoks”. 25 Februari 2008. http://www.indomedia.com

Webwarouw. “Obat Seribu Rupiah Disiapkan Untuk Desa Siaga”. 25 Februari. 2008. http://www.sinarharapan.go.id

­Webwarouw. “Obat Seribu Rupiah Disalurkan Apotek Rakyat” 27 Februari. http://www.sinarharapan.co.id

“Definisi Obat Seribu”. 25 Februari 2008. http://depkes.co.id

“Pemerintah Akan Salurkan Obat Paket Seribu ke Poskesde”. 25 Februari 2008. Last revised 4 June 2007. http://www.depkominfo.go.id

“Obat Seribu di Jateng Capai Penjualan Enam Ratus Tujuh Puluh Ribu Strip”. 25 Februari 2008. http://www.suaramerdeka.com

“Obat Seribu Terus Bersaing di Pasar yang Ketat”. 27 Februari 2008. http://www.indofarma.co.id

“Raker di DepKes:Prioritaskan Pelayanan Kesehatan Rakyat”. 25 Februari 2008. http://www.indonesia.go.id


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: